Selasa, 17 Desember 2013

Dosen tapi bukan dosen :D


Sekitar 4 tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku SMA, sama sekali tidak terlintas di benak kita akan menemui hal-hal kurang menyenangkan di bangku kuliah. Saat-saat terakhir mengecap bangku sekolah menengah atas yang ada di benak kita hanya terlintas bagaimana indahnya berganti status dari Siswa menjadi Mahasiswa. Di saat-saat terakhir itu juga kita terlalu bersemangat bercerita kepada teman-teman bagaimana rencana kita ketika nantinya menjadi Mahasiswa. Indah memang, tapi tak semua merasakan Indahnya menjadi Mahasiswa.
            Setahun melewati masa perkuliahan dengan status Mahasiswa, semua masih normal-normal saja. Mengikuti euphoria  status sebagai Mahasiswa baru, disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat, mungkin masih terbawa suasana dari status Siswanya.  Semuanya mulai berubah ketika memasuki tahun kedua dan tahun berikutnya, ketika kesibukan jadwal kuliah ditambah dengan kesibukan berlembaga. Ada yang sukses memenej waktu,  dan ada juga yang terlena dalam dunia lembaga. Maka beruntunglah mereka yang sukses dalam hal ini. Kembali lagi, semua tergantung dari mindset pribadi masing-masing.
            Ahhh, itu sebagai selingaan..kali ini saya hanya ingin mencurahkan tentang pahitnya manjadi Mahasiswa yang dianaktirikan L
            Yaaah mungkin miris dan tidak semua Mahasiswa mengalamai nasib yang sama dengan saya, maka berbahagialah mereka. Tapi apapun ceritanya, saya tetap berusaha mengambil hikmah darinya, Karena Actually, semuanya bersumber dari kesalahan kecil saya sendiri. Dan saya, mungkin adalah salah satu dari mereka yang juga menjadi korban dari ketidakprofesionalan dosen. Tidak enak memang, tapi toh pada akhirnya saya masih bias bertahan dan berjuang sampai detik ini dan untunglah  saya bukan salah satu dari mereka yang menyerah dan memilih pergi.
            Dosen kalau dipikir dengan jenjang pendidikannya yang sudah sampai S2 kadang sulit dimengerti pola mendidiknya bagaimana. Antara mendidik dan mempersulit??. Padahal kalau dipikir dengan pendidikan yang sudah tinggi seperti itu, sudah sewajarnya menjadi teman sekaligus pembimbing Mahasiswa. Bukan malah menjaga jarak dan seolah-olah harus ditakuti. Meskipun tidak semua dosen seperti ini, tapi kali ini saya memang ingin membahas dosen dengan ketidakprofesionalannya.
            Jarang masuk, tapi anehnya di akhir semester kok ngasih nilai ke Mahasiwa kesannya tidak masuk akal yah. Tidak masalah jika nilai yang di kasih ke Mahasiswa itu rata, nah ini kenyataannya hanya sebagian Mahasiswa yang mendapat nilai termasuk bagus sedangkan Mahasiswa yang lainnya harus puas dengan nilai yang kurang memuaskan. Bisa dibilang memperoleh nilai bagus itu tergantung factor L yah. Itu nilai dari mana sedangkan buk dosen/bapak dosen aja jarang masuk, ngasih tugas aja jarang, nanti nongolnya di dua minggu terakhir perkuliahan. Mengandalkan status sebagai dosen, dan bias dikatakan tempat Mahasiswa menggantungkan harapannya di setiap semester perkuliahan lantas dengan jurus seribu alasan diluncurkan untuk melindungi ketidakprofesionalannya. Dan ketika Mahasiswa yang mengajukan alasan karena suatu hal, dengan status dosennya lagi seenaknya menolak dan tak mau tau. Tentu saja ini menjadi pil pahit yang harus ditelan  sebagian Mahasiswa.
            Entah apa yang ada dibenak buk dosen/bapak dosen yang terhormat ketika memperlakukan Mahasiswa dengan tidak adil. Maka tidak heran jika ada segelintir Mahasiswa yang menjadikan dosen-dosen seperti ini bahan olok-olok. Saya rasa wajar, mereka hanya meluahkan rasa ketidakpuasan mereka dengan usahanya sepanjang satu semester yang merasa tidak dihargai.
            Tapi apapun itu, bagaimanapun akhirnya, berusalah untuk lakukan dan berikan yang terbaik. Pesan MAHASIWA calon sarjana :D J

Selasa, 10 Desember 2013

Syair-Syair kerinduan



Di penghujung malam yang dingin
Sunyi yang  damai
Suara Malam yang khas
sebagian  mereka lelap dalam alam mimpi

dalam damainya penghujung malam
seorang diri tafakur dalam kesyahduan
lafadz Asma Allah mengalun lembut dari bibir
melantunkan syair-syair Kerinduan
sejenak hanyut dalam dzikir
dialah hamba  dengan kepasrahannya

bibir berucap dalam munajat
derai air mata penyerahannya
dialah hamba yang hina
dia  hamba yang tak berdaya
berserah dalam kerendahan

mengharap kemurahan hati-Nya Yang Kuasa
meminta pengampunan-Nya Yang Mulia