Sekitar 4 tahun yang
lalu, ketika masih duduk di bangku SMA, sama sekali tidak terlintas di benak
kita akan menemui hal-hal kurang menyenangkan di bangku kuliah. Saat-saat
terakhir mengecap bangku sekolah menengah atas yang ada di benak kita hanya
terlintas bagaimana indahnya berganti status dari Siswa menjadi Mahasiswa. Di
saat-saat terakhir itu juga kita terlalu bersemangat bercerita kepada
teman-teman bagaimana rencana kita ketika nantinya menjadi Mahasiswa. Indah
memang, tapi tak semua merasakan Indahnya menjadi Mahasiswa.
Setahun melewati masa perkuliahan dengan status
Mahasiswa, semua masih normal-normal saja. Mengikuti euphoria status sebagai Mahasiswa baru, disibukkan
dengan jadwal kuliah yang padat, mungkin masih terbawa suasana dari status
Siswanya. Semuanya mulai berubah ketika
memasuki tahun kedua dan tahun berikutnya, ketika kesibukan jadwal kuliah
ditambah dengan kesibukan berlembaga. Ada yang sukses memenej waktu, dan ada juga yang terlena dalam dunia
lembaga. Maka beruntunglah mereka yang sukses dalam hal ini. Kembali lagi,
semua tergantung dari mindset pribadi masing-masing.
Ahhh, itu sebagai selingaan..kali ini saya hanya ingin
mencurahkan tentang pahitnya manjadi Mahasiswa yang dianaktirikan L
Yaaah mungkin miris dan tidak semua Mahasiswa mengalamai
nasib yang sama dengan saya, maka berbahagialah mereka. Tapi apapun ceritanya,
saya tetap berusaha mengambil hikmah darinya, Karena Actually, semuanya
bersumber dari kesalahan kecil saya sendiri. Dan saya, mungkin adalah salah
satu dari mereka yang juga menjadi korban dari ketidakprofesionalan dosen.
Tidak enak memang, tapi toh pada akhirnya saya masih bias bertahan dan berjuang
sampai detik ini dan untunglah saya
bukan salah satu dari mereka yang menyerah dan memilih pergi.
Dosen kalau dipikir dengan jenjang pendidikannya yang
sudah sampai S2 kadang sulit dimengerti pola mendidiknya bagaimana. Antara
mendidik dan mempersulit??. Padahal kalau dipikir dengan pendidikan yang sudah
tinggi seperti itu, sudah sewajarnya menjadi teman sekaligus pembimbing
Mahasiswa. Bukan malah menjaga jarak dan seolah-olah harus ditakuti. Meskipun
tidak semua dosen seperti ini, tapi kali ini saya memang ingin membahas dosen
dengan ketidakprofesionalannya.
Jarang masuk, tapi anehnya di akhir semester kok ngasih
nilai ke Mahasiwa kesannya tidak masuk akal yah. Tidak masalah jika nilai yang
di kasih ke Mahasiswa itu rata, nah ini kenyataannya hanya sebagian Mahasiswa
yang mendapat nilai termasuk bagus sedangkan Mahasiswa yang lainnya harus puas
dengan nilai yang kurang memuaskan. Bisa dibilang memperoleh nilai bagus itu
tergantung factor L yah. Itu nilai dari mana sedangkan buk dosen/bapak dosen
aja jarang masuk, ngasih tugas aja jarang, nanti nongolnya di dua minggu
terakhir perkuliahan. Mengandalkan status sebagai dosen, dan bias dikatakan
tempat Mahasiswa menggantungkan harapannya di setiap semester perkuliahan
lantas dengan jurus seribu alasan diluncurkan untuk melindungi
ketidakprofesionalannya. Dan ketika Mahasiswa yang mengajukan alasan karena
suatu hal, dengan status dosennya lagi seenaknya menolak dan tak mau tau. Tentu
saja ini menjadi pil pahit yang harus ditelan
sebagian Mahasiswa.
Entah apa yang ada dibenak buk dosen/bapak dosen yang
terhormat ketika memperlakukan Mahasiswa dengan tidak adil. Maka tidak heran
jika ada segelintir Mahasiswa yang menjadikan dosen-dosen seperti ini bahan
olok-olok. Saya rasa wajar, mereka hanya meluahkan rasa ketidakpuasan mereka
dengan usahanya sepanjang satu semester yang merasa tidak dihargai.
Tapi apapun itu, bagaimanapun akhirnya, berusalah untuk
lakukan dan berikan yang terbaik. Pesan MAHASIWA calon sarjana :D J